Picture
1.  Bagaimana cara pemberian untuk pasien umur 45 tahun? Pasien tersebut menderita sakit jantung dan mengkonsumsi walfarin, apakah terjadi interaksi dengan omeprazole? Bagaimana penanganannya jika terjadi interaksi?
Jawab:
  Omeprazole dapat meningkatkan konsentrasi plasma dari warfarin, obat-obatan yang dimetabolisme dengan cara oksidasi di hati. Oleh karena itu penderita yang menerima pengobatan dengan obat-obat tersebut bersama dengan Omeprazole perlu dimonitoring untuk menyesuaikan dosisnya.

Untuk pasien dewasa, dosis intravena 40 mg, 30 menit sebelum induksi telah digunakan. Dosis oral 40-80 mg harus diberikan 2-4 jam sebelum operasi untuk menjadi efektif.

Omeprazole meningkatkan efek antikoagulan dari warfarin, karena omeprazol dapat memperpanjang eliminasi warfarin. Sehingga dianjurkan untuk memantau penderita yang mendapat pengobatan warfarin dan penurunan dosis warfarin mungkin perlu jika omeprazol ditambahkan pada pengobatan.



Picture
2. Kenapa omeprazole disalut tahan asam padahal kerjanya dilambung? Apakah ada interaksi jika dikombinasi dengan antasida? Kenapa omeprazole harus diminum sampai habis?
Jawab:
Omeprazole merupakan suatu pro-drug yang tidak aktif di tubuh sampai diaktifkan di sel parietal. Omeprazole merupakan basa lemah sehingga akan terkonsentrasi pada bagian-bagian yang asam. Selain rongga lambung, pada tubuh satu-satunya tempat dimana terdapat keasaman adalah kanalikuli sekretori sel parietal.

Untuk menghindari pemecahan omeprazole dalam rongga lambung yang asam, adalah formulasi oralnya mengandung granul selaput enterik yang tahan asam. Jadi omeprazole menghambat sekresi asam pada tahap akhir mekanisme sekresi asam yaitu di pompa proton. Sifat omeprazole yang lipofilik sehingga mudah menembus membran sel parietal tempat sel dihasilkan. Omeprazole hanya aktif dalam lingkungan asam dan tidak aktif pada pH fisiologis,sehingga tidak menghambat pompa proton di tempat lain.

Tidak ditemukan interaksi dengan antasida. Penghambat pompa proton dapat meningkatkan risiko infeksi gastrointestinal karena efek penekanan sekresi asam.

Picture
3.  Pasien suka berolahraga dan mengkonsumsi suplemen, apakah pengaruh antara suplemen terhadap omeprazole?
Jawab:
Proton Pump Inhibitors (lansoprazole, omeprazole, rabeprazole sodium): penggunaan secara bersamaan  PPI  dan calcium carbonate atau calcium phosphate dapat menurunkan absorbsi kalsium, bila suplemen yang dikonsumsi berupa suplemen kalsium.

Picture
4.  Berdasarkan farmakoekonomi obat yang bagaimana yang paling bagus untuk dimasukkan dalam formularium?
Jawab:
Pada umumnya terdapat empat metode analisa farmakoekonomi yang digunakan, yaitu : Analisa Biaya Keuntungan (Cost-Benefit Analysis) yakni perbandingan nilai moneter dari penggunaan sumber daya alternatif, Analisa Biaya Efektifitas (Cost-Effectiveness Analysis) yakni perbandingan nilai moneter dengan mengukur biaya dalam satuan medis, Analisa Biaya Minimisasi (Cost-Minimization Analysis) yakni perhitungan banyaknya biaya yang dapat disimpan sebagai akibat dari suatu tindakan terapi, serta Analisa Biaya Utilitas (Cost-Utility Analysis) yakni pengukuran dari hasil kesehatan dalam satuan kualitas hidup (Quality-Adjusted Life Year).

Dari sisi farmakoekonomi, tentunya biaya pengobatan merupakan hal yang utama dari seseorang untuk patuh berobat agar didapatkan kesembuhan yang optimal. Istilah Farmakoekonomi diartikan sebagai deskripsi dan analisis dari biaya terapi obat untuk sistem pelayanan kesehatan dan masyarakat. Jadi Farmakoekonomi meliputi: identifikasi, mengukur, dan membandingkan biaya dari sumber daya yang dipakai dan konsekuensinya dalam bentuk klinis, ekonomi, dan humanistik.

Dari Farmakoekonomi, dapat menjelaskan:
1.  Obat-obat apa saja yang layak dimasukkan ke dalam formularium Rumah Sakit
2.  Obat apa yang terbaik untuk pasien tertentu?
3.  Obat apa yang terbaik untuk dikembangkan oleh industri farmasi?
4.  Obat apa yang terbaik untuk penyakit tertentu?

Tentunya tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh pasien, dimana penyakit yang diderita umumnya bukan hanya 1 jenis penyakit saja. Komplikasi akibat penyakit jantung dan stroke merupakan masalah yang sering dialami penderita. Biaya yang dikeluarkan untuk berobat juga meningkat, dan hal ini sering terjadi dimana penderita menghentikan pengobatan akibat mahalnya biaya pengobatan.

Untuk itu, sudah saatnya dipikirkan oleh dunia farmasi, bahwa obat yang baik tidaklah harus obat yang mahal. Tentunya harus memenuhi mutu dan standard yang diakui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Suatu obat boleh dipasarkan setelah mendapat izin dari BPOM. Salah satu persyaratan BPOM adalah harus melalui uji BA/BE (Bioavailabilitas dan Bio Ekivalen) yang baik.

Share
 


Comments




Leave a Reply